Tortikolis pada Bayi: Gangguan Leher yang Sering Tak Disadari

  • Nov 01, 2025
  • Adisty
  • Kesehatan, Balita

Tortikolis pada Bayi: Gangguan Leher yang Sering Tak Disadari

Dalam dunia medis anak, ada satu kondisi yang sering kali luput dari perhatian orang tua maupun tenaga kesehatan di tahap awal: tortikolis pada bayi. Meski tidak menyebabkan gejala nyeri, kondisi ini dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara jangka panjang jika tidak ditangani sejak dini.

Tortikolis merupakan kondisi ketika otot leher bagian samping, khususnya otot sternocleidomastoideus (SCM), memendek atau menjadi kaku sehingga menyebabkan kepala bayi miring ke satu sisi dan dagu mengarah ke sisi sebaliknya. Dalam kasus kongenital (sejak lahir), tortikolis bisa muncul karena posisi janin yang tidak ideal di dalam rahim atau akibat trauma otot saat proses persalinan.

Yang menjadi perhatian adalah fakta bahwa tortikolis sering tidak dikenali sejak awal. Banyak orang tua baru yang menganggap kepala bayi yang selalu miring ke satu sisi sebagai hal biasa atau bahkan menganggapnya sebagai “kebiasaan tidur.” Namun, jika dibiarkan tanpa penanganan, tortikolis dapat menyebabkan asimetri wajah, bentuk kepala yang tidak simetris (plagiocephaly), gangguan postur tubuh, dan keterlambatan perkembangan motorik.

Fisioterapis anak dari beberapa klinik tumbuh kembang menyebutkan bahwa deteksi dini sangatlah penting. “Kami sering menerima bayi usia 4–6 bulan yang baru dibawa setelah orang tua menyadari kepalanya terus miring atau bentuk kepalanya mulai tidak rata. Padahal, kalau ditangani sejak usia 1–2 bulan, respon terapinya jauh lebih cepat,” ujar seorang fisioterapis senior.

Gejala tortikolis yang umum ditemukan antara lain:

  • Kepala bayi selalu miring ke satu arah,

  • Kesulitan menoleh ke sisi tertentu,

  • Bayi tampak tidak nyaman saat posisi kepala diubah,

  • Salah satu sisi wajah atau kepala tampak lebih datar.

Penanganan tortikolis pada bayi tidak selalu memerlukan intervensi medis invasif. Pendekatan fisioterapi telah terbukti sangat efektif, terutama bila dilakukan pada usia dini. Latihan peregangan, pengaturan posisi tidur dan menyusui, serta stimulasi motorik tertentu menjadi bagian dari terapi utama. Orang tua juga diajarkan untuk melakukan latihan sederhana di rumah untuk membantu memanjangkan dan meregangkan otot yang kaku secara perlahan.

Tummy time — posisi tengkurap saat bayi terjaga — merupakan salah satu latihan sederhana namun sangat bermanfaat dalam memperbaiki simetri otot leher. Selain itu, mengganti arah posisi mainan atau arah menyusui juga berfungsi untuk melatih bayi menggunakan sisi leher yang lemah.

Sayangnya, belum semua layanan kesehatan primer memasukkan skrining tortikolis sebagai bagian dari pemeriksaan rutin bayi. Oleh karena itu, edukasi kepada orang tua menjadi aspek penting dalam meningkatkan kesadaran terhadap kondisi ini. Jika deteksi dan terapi dilakukan tepat waktu, sebagian besar bayi dengan tortikolis bisa pulih sepenuhnya tanpa dampak jangka panjang.

Tortikolis memang tidak menyakitkan, namun bukan berarti tidak berbahaya. Dengan perhatian, ketelatenan, dan pendampingan yang tepat dari fisioterapis, gangguan leher yang sering tak disadari ini dapat diatasi secara efektif, memberikan peluang bagi bayi untuk tumbuh dan berkembang dengan postur dan fungsi tubuh yang optimal.