TENS: Teknologi Fisioterapi yang Efektif Redakan Nyeri Tanpa Obat
- Jan 17, 2026
- Adhe
- Kesehatan
Jakarta, 13 Juli 2025 — Dalam dunia medis modern yang terus berkembang, terapi non-obat kini semakin digemari sebagai pilihan alternatif yang aman dan efektif. Salah satu teknologi fisioterapi yang sedang naik daun adalah Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation atau yang lebih dikenal dengan TENS. Teknik ini menjadi solusi praktis bagi pasien yang mengalami nyeri kronis maupun akut, tanpa ketergantungan pada obat-obatan kimia.
TENS merupakan metode yang menggunakan arus listrik bertegangan rendah yang dialirkan melalui elektroda kecil yang ditempelkan di permukaan kulit. Tujuannya adalah untuk merangsang saraf sensorik dan menghambat sinyal nyeri yang dikirim ke otak. Selain itu, stimulasi ini juga dipercaya mampu merangsang pelepasan endorfin, zat kimia alami tubuh yang berfungsi sebagai penghilang rasa sakit.
Menurut dr. Ratna Widyaningsih, Sp.KFR, seorang spesialis rehabilitasi medik di RSUP Cipto Mangunkusumo, TENS telah digunakan luas untuk berbagai kondisi nyeri. "Terapi ini sangat membantu pasien dengan nyeri punggung bawah, osteoartritis, nyeri pasca-operasi, hingga kondisi neurologis seperti neuropati perifer," ujarnya dalam wawancara khusus.
Selain efektivitasnya, keunggulan utama dari TENS adalah minim efek samping. Ini sangat penting, mengingat banyak pasien yang mengalami ketergantungan atau gangguan lambung akibat konsumsi obat pereda nyeri jangka panjang. TENS juga bisa digunakan sebagai terapi mandiri di rumah, selama tetap dalam pengawasan dan arahan fisioterapis atau dokter.
Salah satu pasien yang telah merasakan manfaat TENS adalah Rina Kusumawati (45), penderita nyeri lutut kronis akibat osteoartritis. "Dulu saya tidak bisa jalan jauh karena lutut terasa seperti ditusuk-tusuk. Setelah menjalani terapi TENS rutin dua kali seminggu, rasa nyerinya jauh berkurang. Sekarang saya bisa beraktivitas lebih nyaman," tuturnya.
Penggunaan TENS tidaklah sembarangan. Fisioterapis akan melakukan evaluasi terlebih dahulu, menentukan lokasi penempatan elektroda, durasi terapi, serta frekuensi arus listrik yang digunakan. Umumnya, sesi berlangsung antara 20 hingga 30 menit, tergantung dari tingkat keparahan nyeri dan respons pasien.
Meski terbukti efektif, TENS bukanlah solusi untuk semua jenis nyeri. Terapi ini tidak dianjurkan untuk pasien dengan alat pacu jantung (pacemaker), epilepsi, atau wanita hamil di trimester pertama, karena bisa memicu kontraksi otot yang berbahaya.
Di Indonesia, pemanfaatan teknologi ini kian meluas seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya fisioterapi dalam manajemen nyeri. Klinik-klinik fisioterapi, baik di rumah sakit negeri maupun swasta, kini menyediakan layanan TENS sebagai bagian dari paket terapi pemulihan.
Melihat tren tersebut, dr. Ratna optimistis bahwa TENS dapat menjadi bagian penting dalam revolusi layanan kesehatan berbasis non-farmakologis. “Dengan edukasi yang tepat, masyarakat bisa mengakses terapi yang aman dan efektif untuk meningkatkan kualitas hidup mereka,” tegasnya.
Sebagai catatan, TENS bukan hanya simbol kemajuan teknologi medis, tetapi juga lambang pendekatan manusiawi dalam meredakan penderitaan—tanpa harus mengandalkan obat semata.