Mahasiswa Unmer Malang Hadirkan Eco Green Talk untuk Pemberdayaan Warga

  • Sep 02, 2025
  • Rizka Wulandari
  • Edukasi, PKK, Pelatihan, Informasi, KKN

Semangat Baru dari Dusun Kecil

Di sebuah dusun bernama Temu, Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, sekelompok mahasiswa Universitas Merdeka (Unmer) Malang tengah menghadirkan gagasan segar untuk pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini diberi nama Eco Green Talk, sebuah program yang tidak hanya sekadar forum diskusi, tetapi juga wujud nyata kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, dan warga setempat dalam menciptakan ruang belajar bersama tentang keberlanjutan lingkungan.

Eco Green Talk menjadi titik temu antara ilmu pengetahuan di kampus dengan realitas sosial di masyarakat. Di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan kebutuhan pangan berkelanjutan, mahasiswa Unmer mencoba menjembatani kesenjangan tersebut melalui pendekatan yang sederhana: mengajak warga berdialog, belajar, dan beraksi.

Bab I: Latar Belakang Kegiatan

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selalu menjadi wadah mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat. Namun, mahasiswa KKN kelompok 21 Unmer Malang tidak ingin program mereka sekadar formalitas. Mereka ingin meninggalkan warisan sosial berupa pengetahuan, kebiasaan baru, serta pola pikir yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Dusun Temu dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah ini masih memiliki potensi pertanian dan lahan hijau, tetapi mulai menghadapi tekanan modernisasi. Sebagian warga beralih ke pekerjaan non-pertanian, sementara generasi muda perlahan menjauh dari kebiasaan bercocok tanam. Padahal, tanah di daerah tersebut masih sangat subur.

Eco Green Talk hadir sebagai jawaban untuk:

  1. Meningkatkan kesadaran lingkungan.

  2. Memberikan edukasi tentang pemanfaatan green house.

  3. Menciptakan peluang pemberdayaan ekonomi keluarga.

  4. Menguatkan peran ibu-ibu PKK sebagai motor keberlanjutan.

Bab II: Hari-Hari Persiapan

Persiapan Eco Green Talk dimulai berminggu-minggu sebelum acara. Mahasiswa mengadakan koordinasi rutin dengan perangkat desa dan warga RT 2 Dusun Temu.

Mereka melakukan survei lokasi, memetakan kebutuhan, lalu menyusun rencana kegiatan. Fokus mereka sederhana namun bermakna: green house yang sudah ada di dusun harus tetap berlanjut, tidak boleh berhenti setelah program KKN usai.

Menurut Ketua Kelompok KKN, rizal aditya akbar:

“Kami tidak ingin kegiatan ini hanya sebatas seremonial. Eco Green Talk harus jadi pintu masuk bagi warga untuk merasa memiliki dan melanjutkan program green house. Jadi, konsepnya bukan hanya bicara, tapi juga praktik nyata.”

Ibu-ibu PKK dilibatkan sejak awal. Mereka diminta untuk hadir dalam sesi diskusi, berbagi pengalaman, sekaligus dilatih untuk mengelola green house. Dukungan Kepala Desa juga besar. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan program mahasiswa akan didorong lewat kebijakan desa.Bab III: Hari Pelaksanaan – Suasana Penuh Kehangatan

Hari itu, balai dusun ramai oleh kehadiran  warga, mayoritas ibu-ibu PKK. Suasana tampak sederhana, tetapi penuh semangat. Spanduk bertuliskan “Eco Green Talk: Bersama Mewujudkan Lingkungan Berkelanjutan” dipasang di dinding.

Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Dusun. Beliau menekankan pentingnya menjaga lingkungan sebagai warisan untuk anak cucu. Setelah itu, mahasiswa mengambil alih dengan sesi edukasi interaktif.

Materi yang disampaikan antara lain:

  • Apa itu green house dan mengapa penting bagi pertanian modern.

  • Cara merawat tanaman agar produktif meski di lahan terbatas.

  • Potensi ekonomi dari sayur hasil green house.

  • Tips sederhana menjaga lingkungan di sekitar rumah.

Dialog berlangsung dua arah. Beberapa warga bertanya, ada pula yang langsung bercerita pengalaman pribadi menanam cabai dan tomat.

Safira menutup sesi dengan kalimat yang membuat warga tersenyum:

“Green house ini bukan milik mahasiswa, tapi milik kita semua. Kalau dirawat bersama, hasilnya akan dirasakan bersama.”

Acara kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi green house. Di sana, warga diajak langsung melihat tanaman sayuran yang sedang tumbuh. Beberapa ibu terlihat antusias mengambil foto, bahkan ada yang membawa anak kecil untuk ikut belajar.

Bab IV: Suara Warga – Testimoni dan Harapan

Seusai acara, beberapa warga memberikan tanggapan.

Ibu bawon, anggota PKK ketua rt 2, mengatakan:

“Saya senang sekali. Selama ini kalau dengar istilah green house rasanya jauh, tapi ternyata bisa kita lakukan di desa. Anak-anak juga jadi tahu kalau bercocok tanam itu menyenangkan.”

Pak kuswandi, ketua rt 2 perangkat desa, menambahkan:

“Program ini luar biasa karena langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Kami akan terus mendukung agar green house ini tidak berhenti.”

Mahasiswa mencatat semua masukan itu. Bagi mereka, suara warga adalah energi sekaligus evaluasi untuk memperbaiki program.

Bab V: Dimensi Akademik dan Sosial

Eco Green Talk bukan sekadar pengabdian masyarakat biasa. Dari kacamata akademik, kegiatan ini adalah transfer pengetahuan. Mahasiswa belajar menerapkan teori komunikasi, pertanian berkelanjutan, hingga manajemen proyek.

Dari sisi sosial, kegiatan ini menumbuhkan rasa percaya diri warga. Mereka merasa dilibatkan, bukan hanya menjadi objek. Interaksi sederhana di balai desa memberi dampak psikologis: warga lebih terbuka, lebih percaya bahwa mereka bisa mandiri.

Hal ini selaras dengan visi Unmer Malang: mencetak lulusan yang unggul, mandiri, dan peduli masyarakat.

Bab VI: Tantangan yang Dihadapi

Tentu tidak semua berjalan mulus. Mahasiswa menghadapi beberapa tantangan:

  1. Keterbatasan waktu. KKN hanya berlangsung sebulan, sementara perubahan perilaku masyarakat membutuhkan proses panjang.

  2. Sarana terbatas. Green house yang ada masih sederhana, perlu tambahan peralatan.

  3. Keterlibatan warga. Tidak semua warga bisa aktif hadir karena kesibukan pekerjaan.

Namun, tantangan itu justru menjadi pembelajaran. Mahasiswa belajar bersabar, mencari solusi kreatif, dan melibatkan tokoh lokal sebagai motor penggerak.

Bab VII: Dampak Jangka Panjang

Meski baru pertama kali diadakan, Eco Green Talk diyakini memiliki dampak panjang:

  • Keberlanjutan Green House. Warga sudah membentuk jadwal piket untuk merawat tanaman.

  • Peningkatan ekonomi keluarga. Hasil panen rencananya akan dijual di pasar desa.

  • Edukasi generasi muda. Anak-anak sekolah dasar yang ikut hadir kini mengenal konsep pertanian ramah lingkungan.

Bab VIII: Eco Green Talk sebagai Inspirasi Nasional

Fenomena Eco Green Talk sebenarnya bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain. Di tengah isu global tentang krisis pangan dan lingkungan, langkah kecil mahasiswa Unmer Malang menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari dusun kecil.

Jika kegiatan serupa direplikasi di banyak desa, maka Indonesia tidak hanya bergantung pada program pemerintah pusat, melainkan juga mengandalkan partisipasi lokal.

Bab IX: Refleksi Mahasiswa

Setiap anggota kelompok KKN memiliki kesan mendalam.

Reval, salah satu mahasiswa, mengatakan:

“Saya merasa belajar lebih banyak dari warga dibanding warga belajar dari saya. Keterbukaan mereka membuat saya sadar bahwa ilmu harus dibagi, bukan disimpan.”

Safira menambahkan:

“Kami datang dengan niat memberi, tapi justru mendapat banyak. Kami belajar arti gotong royong yang sesungguhnya.”

Refleksi ini menunjukkan bahwa KKN bukan sekadar tugas akademik, melainkan proses pendewasaan diri.

Bab X: Penutup – Warisan Hijau untuk Generasi Berikutnya

Eco Green Talk telah selesai, tetapi semangatnya masih menyala di Dusun Temu. Green house kini bukan lagi milik mahasiswa, melainkan bagian dari kehidupan warga.

Kepala Desa dalam pidatonya di akhir acara menegaskan:

“Mahasiswa boleh pulang, tapi ilmu dan semangat yang ditinggalkan akan tetap hidup di desa ini.”

Program sederhana itu akhirnya menjadi bukti bahwa keberlanjutan lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil, dari ruang hijau di dusun, dan dari percakapan hangat antara mahasiswa dan warga.