Mahasiswa Belajar Teknik Terapi Trigger Point di Kasus Cedera Otot Hamstring

  • Nov 01, 2025
  • Adisty
  • Edukasi

Mahasiswa Belajar Teknik Terapi Trigger Point di Kasus Cedera Otot Hamstring

Program Studi S1 Fisioterapi – ITSK RS dr. Soepraoen

Cedera otot hamstring merupakan salah satu cedera muskuloskeletal yang paling umum dijumpai, terutama pada individu yang aktif secara fisik seperti atlet, mahasiswa yang rutin berolahraga, maupun pekerja dengan aktivitas gerak cepat. Otot hamstring terdiri dari tiga otot utama di bagian posterior paha, yaitu biceps femoris, semitendinosus, dan semimembranosus. Cedera biasanya terjadi akibat peregangan berlebihan, aktivitas eksplosif yang tidak didahului pemanasan, atau ketidakseimbangan kekuatan otot.

Dalam dunia fisioterapi, penanganan cedera hamstring memerlukan pendekatan holistik, salah satunya melalui teknik manual yang efektif yaitu terapi trigger point. Trigger point merupakan titik-titik nyeri yang teraba di dalam otot, berbentuk nodul kecil yang jika ditekan akan menimbulkan nyeri lokal maupun menjalar (referred pain). Trigger point terbagi menjadi dua jenis, yaitu aktif (menimbulkan nyeri spontan) dan laten (nyeri hanya saat ditekan).

Sebagai mahasiswa fisioterapi di ITSK RS dr. Soepraoen, mempelajari teknik terapi trigger point menjadi bekal penting dalam menangani kasus-kasus cedera otot, termasuk pada otot hamstring. Proses pembelajaran dimulai dengan pengenalan teori dasar trigger point, anatomi dan fisiologi otot hamstring, hingga teknik palpasi untuk mengidentifikasi titik-titik nyeri tersebut.

Setelah pemahaman teoretis, mahasiswa kemudian melakukan praktik palpasi dengan menyusuri otot hamstring secara longitudinal untuk menemukan nodul yang nyeri saat ditekan. Teknik utama yang diajarkan dalam terapi ini adalah iskemik kompresi (ischemic compression), yaitu memberikan tekanan stabil pada trigger point menggunakan ibu jari atau siku selama 30–90 detik hingga terjadi pelemasan otot.

Mahasiswa juga dilatih untuk mengevaluasi hasil terapi dengan mengukur perubahan skala nyeri (VAS), peningkatan jangkauan gerak (ROM), dan peningkatan fungsi aktivitas pasien. Selain itu, mahasiswa mendapatkan edukasi penting mengenai indikasi dan kontraindikasi terapi trigger point, agar intervensi dapat dilakukan secara aman dan efektif.

Sebagai studi kasus, mahasiswa diajak menganalisis pasien simulatif: seorang mahasiswa usia 21 tahun yang mengalami nyeri otot hamstring kanan pasca bermain futsal. Setelah dilakukan identifikasi trigger point pada otot biceps femoris, terapi iskemik kompresi diberikan, diikuti dengan stretching ringan. Hasil terapi menunjukkan penurunan nyeri dan peningkatan fleksibilitas otot.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep klinis tetapi juga meningkatkan keterampilan praktik, empati terhadap pasien, dan kemampuan komunikasi terapeutik. Pembelajaran teknik terapi trigger point tidak hanya memperluas wawasan klinis, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi fisioterapis yang kompeten dan profesional dalam menghadapi berbagai kasus muskuloskeletal di lapangan.

Dengan penguasaan terapi trigger point, mahasiswa fisioterapi ITSK RS dr. Soepraoen diharapkan mampu memberikan intervensi yang tepat dalam menangani nyeri otot dan spasme, serta turut berkontribusi dalam proses pemulihan pasien secara optimal.