Judul: KPR Tidak Selalu Solusi: Hitung Sebelum Menyesal

  • Aug 13, 2025
  • Lion Wahyu
  • Edukasi

Judul: KPR Tidak Selalu Solusi: Hitung Sebelum Menyesal

Bandung, 9 Juli 2025
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) selama ini dianggap sebagai jalan paling cepat untuk memiliki rumah pribadi. Namun di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif dan gaya hidup yang semakin konsumtif, KPR tidak selalu menjadi solusi terbaik—terutama jika diambil tanpa perhitungan yang matang.

“KPR bisa menjadi alat bantu kepemilikan rumah, tapi juga bisa jadi beban berat jangka panjang kalau tidak dihitung dengan benar,” ujar Hendra Yulian, CFP®, perencana keuangan dari Lembaga Edukasi Finansial Bandung, dalam talkshow “Merdeka Punya Rumah, Bukan Terjerat Cicilan” di Aula Creative Hub Dago, Selasa (9/7).

Impian Rumah, Kenyataan Cicilan

Banyak generasi muda yang mengambil KPR karena dorongan untuk "cepat punya rumah", padahal kondisi keuangan pribadi belum stabil. Akibatnya, cicilan bulanan yang awalnya terasa ringan perlahan menjadi beban, apalagi jika terjadi perubahan penghasilan, naiknya suku bunga, atau biaya hidup yang meningkat.

Menurut survei Asosiasi Perencana Keuangan Indonesia (AFKI), 34% nasabah KPR merasa menyesal mengambil cicilan rumah terlalu cepat, dan 1 dari 5 di antaranya mengaku mengalami kesulitan finansial dalam 3 tahun pertama.

Bukan Sekadar Mampu Bayar DP

Kesalahan umum dalam mengambil KPR adalah berpikir cukup mampu hanya karena bisa membayar uang muka (DP). Padahal yang lebih penting adalah kemampuan menjaga arus kas setiap bulan selama bertahun-tahun.

"Orang kadang lupa, rumah itu bukan hanya cicilan. Ada PBB, perawatan, iuran kompleks, dan biaya tidak terduga lainnya," kata Hendra.

Studi Kasus: Terjebak Skema KPR Jangka Panjang

Rita (29), pegawai administrasi di Bandung, mengisahkan pengalamannya mengambil KPR dengan tenor 20 tahun. “Saya tergiur promo DP rendah dan bunga fix 2 tahun. Tapi setelah bunga naik, cicilan melonjak. Sekarang hampir separuh gaji habis buat bayar rumah, belum lagi iuran lingkungan dan perbaikan atap bocor,” ceritanya.

Kini Rita mengaku harus mengorbankan banyak hal: cuti liburan ditunda, asuransi pribadi dihentikan, dan tidak bisa lagi menabung rutin. "Kalau bisa mengulang, saya akan hitung lebih matang," tutupnya.

Solusi: Perhitungkan, Jangan Terburu-Buru

Agar tidak menyesal di kemudian hari, pakar keuangan menyarankan beberapa langkah penting:

  1. Pastikan cicilan tidak melebihi 30% dari penghasilan tetap.

  2. Simulasikan kenaikan bunga dan biaya hidup ke depan.

  3. Bangun dana darurat minimal 6 bulan sebelum akad.

  4. Timbang antara kebutuhan rumah dan fleksibilitas hidup.

  5. Pertimbangkan alternatif: sewa atau beli rumah dengan skala yang sesuai kemampuan.

Penutup

KPR bukan solusi universal untuk semua orang. Dalam banyak kasus, mengambil KPR tanpa perencanaan justru mempersempit ruang hidup dan menunda kebebasan finansial. Maka, sebelum mengejar rumah impian, hitung terlebih dahulu risiko dan kesiapan finansial. Karena rumah tidak akan membawa kebahagiaan jika setiap bulan justru menjadi sumber tekanan.