Judul: Ketika Diskon Berujung Utang: Perangkap E-commerce Modern
- Aug 12, 2025
- Lion Wahyu
- Infrastruktur, Informasi
Judul: Ketika Diskon Berujung Utang: Perangkap E-commerce Modern
Jakarta, 9 Juli 2025 –
Diskon besar-besaran di platform e-commerce kini menjadi pemandangan rutin setiap bulan. Promo bertajuk “9.9”, “Flash Sale”, hingga “Gratis Ongkir Extra” telah menciptakan budaya belanja impulsif di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Namun di balik kemeriahan potongan harga, tersembunyi jebakan finansial bernama utang konsumtif digital.
“E-commerce modern tidak sekadar menjual barang, tapi juga gaya hidup yang berisiko. Diskon yang seolah menguntungkan sering kali mendorong orang membeli barang yang tak mereka butuhkan,” ujar Satrio Ananta, M.E., pengamat ekonomi digital dari Universitas Trisakti, dalam diskusi publik “Perilaku Konsumen dan Utang Digital” di Jakarta, Selasa (9/7).
Data Belanja Naik, Tapi Tabungan Turun
Berdasarkan data dari Lembaga Riset Konsumen Indonesia (LRKI) tahun 2024, 79% konsumen yang memanfaatkan diskon e-commerce menggunakan fasilitas paylater atau cicilan digital, meskipun sebagian besar transaksi bersifat konsumtif—bukan kebutuhan pokok.
Ironisnya, 1 dari 3 pengguna mengaku tidak memiliki dana darurat, dan lebih dari separuh responden mengaku menyesali pembelian mereka setelah tagihan datang.
“Diskon menjadi pemicu belanja impulsif. Masalahnya, ketika tidak punya uang tunai, orang memilih opsi utang instan. Inilah titik awal krisis pribadi,” kata Satrio.
Ilusi “Harga Hemat”, Realita “Tagihan Berat”
Salah satu jebakan psikologis terbesar dalam promo e-commerce adalah persepsi harga murah. Ketika melihat label “diskon 70%” atau “hemat Rp300 ribu”, konsumen merasa rugi kalau tidak membeli—padahal barang tersebut mungkin tidak dibutuhkan.
“Promo besar bukan berarti kita untung. Kalau beli tanpa perhitungan, itu bukan hemat, tapi boros lewat jalur digital,” jelas Tasya Nursanti, CFP®, perencana keuangan di Jakarta.
Tasya menambahkan bahwa platform belanja kini menggabungkan algoritma iklan, sistem cashback, dan opsi paylater untuk mendorong belanja tanpa rasa bersalah. Kombinasi inilah yang menjadikan diskon sebagai perangkap konsumtif modern.
Dampak Nyata: Dari Euforia Belanja ke Stres Bulanan
Riko (26), seorang pegawai swasta di Jakarta Timur, mengaku dulu merasa “pintar” saat berhasil membeli barang saat flash sale. Namun kini, ia terjerat 4 akun paylater berbeda dengan total tagihan bulanan lebih dari separuh gajinya.
“Awalnya cuma beli sepatu diskon. Lalu tambah baju, jam tangan, earphone. Semua lewat cicilan. Sekarang tiap tanggal 1 bukan gajian, tapi waktunya setor tagihan,” ujarnya menyesal.
Solusi: Belanja Sadar, Utang Terhindar
Para ahli memberikan sejumlah tips untuk menghindari jebakan diskon dan utang digital:
-
Simpan barang di keranjang selama 24 jam sebelum checkout – beri waktu berpikir.
-
Buat anggaran belanja dan patuhi batasannya.
-
Jangan aktifkan terlalu banyak akun paylater.
-
Beli hanya jika dananya tersedia, bukan karena promo menggoda.
-
Ingat: potongan harga tidak berarti pengeluaran kecil, jika barangnya tak dibutuhkan.
Penutup
Di era belanja digital, diskon bukan lagi sekadar strategi penjualan, tapi telah menjadi pintu masuk ke dalam pola konsumsi yang tidak sehat. Jika tidak disertai kontrol diri, diskon hari ini bisa berubah menjadi beban utang esok hari. Bijaklah dalam setiap klik, karena tidak semua "hemat" itu benar-benar menguntungkan.