Judul: Fisioterapi Jadi Harapan Utama dalam Pemulihan Cedera Saraf Tulang Belakang (SCI)
- Jan 10, 2026
- Adhe
- Kesehatan
Jakarta, 10 Juli 2025 — Cedera saraf tulang belakang atau Spinal Cord Injury (SCI) merupakan salah satu jenis cedera yang paling menghancurkan, baik secara fisik maupun psikologis. Kondisi ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, hilangnya fungsi sensorik, serta gangguan organ vital. Namun di balik kerusakan saraf yang tampak tak terpulihkan, fisioterapi hadir membawa secercah harapan.
SCI terjadi ketika ada kerusakan pada sumsum tulang belakang akibat trauma, seperti kecelakaan lalu lintas, terjatuh dari ketinggian, kecelakaan olahraga, hingga kekerasan fisik. Cedera ini mengganggu komunikasi antara otak dan tubuh, menyebabkan penderita kehilangan kemampuan untuk menggerakkan atau merasakan bagian tubuh di bawah titik cedera.
Dalam dunia medis, SCI diklasifikasikan menjadi dua jenis: lengkap dan tidak lengkap. Pada SCI lengkap, semua fungsi sensorik dan motorik hilang total di bawah area cedera. Sedangkan pada SCI tidak lengkap, sebagian fungsi masih bisa dipertahankan. Di sinilah peran fisioterapi menjadi sangat krusial dalam memaksimalkan fungsi tubuh yang tersisa.
“Fisioterapi pada pasien SCI bukan hanya soal mengembalikan gerakan, tapi juga menjaga kondisi fisik secara keseluruhan,” kata Rini Astuti, S.Ft, seorang fisioterapis senior di Pusat Rehabilitasi Medik RS Fatmawati, Jakarta. “Kami berfokus pada pencegahan komplikasi, latihan kekuatan otot, perbaikan postur, hingga pelatihan mobilitas.”
Menurutnya, pasien SCI berisiko tinggi mengalami komplikasi seperti luka tekan (dekubitus), kontraktur sendi, osteoporosis, serta infeksi saluran kemih akibat penggunaan kateter jangka panjang. Latihan fisik yang terstruktur dan tepat waktu sangat penting untuk mencegah kondisi tersebut.
Rehabilitasi biasanya dimulai sejak fase akut, yaitu segera setelah cedera terjadi. Fisioterapis akan membantu pasien mempertahankan sirkulasi darah, menjaga kelenturan otot, dan memposisikan tubuh dengan benar. Memasuki fase subakut dan kronis, fokus terapi beralih ke latihan penguatan otot, pelatihan keseimbangan, dan keterampilan fungsional seperti duduk, berpindah tempat, hingga menggunakan alat bantu berjalan atau kursi roda.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Rizky Maulana (29), seorang atlet paralimpik yang mengalami SCI akibat kecelakaan motor empat tahun lalu. Setelah menjalani terapi intensif selama lebih dari satu tahun, ia kini aktif kembali berolahraga dan bahkan mewakili Indonesia dalam cabang para-tenis meja. “Fisioterapi menyelamatkan hidup saya, secara fisik dan mental. Saya kembali percaya diri,” ujarnya.
Namun, tidak semua pasien seberuntung Rizky. Di berbagai daerah, layanan rehabilitasi masih terbatas, dan tidak sedikit pasien SCI yang terpaksa dirawat di rumah tanpa pendampingan fisioterapis profesional. Kurangnya fasilitas, alat bantu, dan tenaga fisioterapi yang memadai menjadi tantangan besar di lapangan.
Melalui berbagai program pelatihan dan edukasi, pemerintah dan organisasi profesi fisioterapi diharapkan dapat memperluas akses pelayanan hingga ke pelosok. Selain itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya fisioterapi dalam proses pemulihan SCI harus terus ditingkatkan.
Cedera saraf tulang belakang memang mengubah hidup seseorang secara drastis. Namun dengan dukungan rehabilitasi yang berkelanjutan, termasuk peran aktif fisioterapi, banyak pasien yang berhasil bangkit dan menjalani hidup dengan martabat dan kemandirian.