Fisioterapi Percepat Pemulihan Pasien Fraktur, Kembalikan Fungsi dan Kemandirian
- Jan 12, 2026
- Adhe
- Kesehatan
Jakarta, 10 Juli 2025 — Fraktur atau patah tulang merupakan salah satu cedera muskuloskeletal yang paling sering ditemui di berbagai fasilitas kesehatan, baik akibat kecelakaan lalu lintas, terjatuh, cedera olahraga, hingga osteoporosis pada lansia. Meski tulang bisa menyatu kembali dengan sendirinya melalui proses biologis alami, pemulihan fungsi tubuh sepenuhnya membutuhkan penanganan yang tepat dan terstruktur — di sinilah peran fisioterapi menjadi sangat penting.
Saat tulang mengalami fraktur, bagian tubuh yang terkena biasanya mengalami imobilisasi dengan gips, pen, atau fiksasi eksternal selama beberapa minggu hingga bulan. Imobilisasi yang terlalu lama bisa menyebabkan otot mengecil (atrofi), sendi kaku, penurunan keseimbangan, hingga gangguan sirkulasi darah. Fisioterapi hadir untuk mencegah semua efek samping tersebut sekaligus membantu pasien kembali bergerak secara normal.
"Fisioterapi pasca-fraktur bukan sekadar latihan biasa, tapi proses rehabilitasi yang menyeluruh, bertujuan memulihkan kekuatan, rentang gerak, hingga fungsi fungsional pasien," jelas Dita Maharani, S.Ft, fisioterapis senior di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. “Semakin cepat terapi dimulai setelah kondisi stabil, semakin besar peluang pemulihan optimal.”
Rehabilitasi biasanya dimulai sejak fase akut, yakni ketika fraktur masih dalam proses penyembuhan. Dalam tahap ini, fisioterapis membantu mempertahankan mobilitas sendi di sekitar area fraktur yang tidak terkena, mencegah kekakuan, dan menjaga kekuatan otot yang tidak terkena cedera. Teknik seperti latihan isometrik, mobilisasi pasif, serta edukasi posisi tubuh yang aman sangat penting dilakukan.
Memasuki fase sub-akut dan kronis, setelah gips dilepas atau fiksasi diangkat, terapi berfokus pada latihan aktif untuk meningkatkan fleksibilitas, kekuatan otot, serta koordinasi gerak. Latihan fungsional seperti berdiri, berjalan, atau menggunakan tangan untuk aktivitas sehari-hari juga menjadi bagian utama dalam program pemulihan.
Salah satu contoh nyata adalah Bapak Hendra (45), yang mengalami fraktur pada tibia akibat kecelakaan sepeda motor. Setelah menjalani operasi dan dipasang pen di kakinya, ia menjalani fisioterapi selama tiga bulan. Kini, ia sudah dapat kembali bekerja dan berjalan tanpa alat bantu. “Awalnya saya pikir cukup istirahat di rumah, tapi ternyata latihan dari fisioterapis sangat menentukan hasil akhirnya,” ujar Hendra.
Sayangnya, masih banyak pasien yang mengabaikan fisioterapi pasca-fraktur. Tak sedikit yang menganggap terapi ini hanya untuk kasus berat atau usia lanjut. Padahal, semua jenis fraktur — ringan hingga kompleks — memerlukan rehabilitasi agar pemulihan benar-benar tuntas dan tidak meninggalkan disabilitas permanen.
Para ahli kesehatan mendorong peningkatan edukasi publik tentang pentingnya fisioterapi dalam pemulihan cedera tulang. Selain itu, fasilitas layanan fisioterapi diharapkan lebih merata hingga ke tingkat puskesmas, agar masyarakat di wilayah terpencil juga mendapatkan akses rehabilitasi yang memadai.
Fraktur bukan akhir dari segalanya. Dengan penanganan yang tepat dan dukungan fisioterapi, pasien tidak hanya dapat menyatu kembali secara struktural, tetapi juga pulih secara fungsional. Fisioterapi hadir bukan hanya untuk menggerakkan tubuh, tetapi juga untuk mengembalikan harapan hidup yang aktif dan mandiri.