Fisioterapi Jadi Kunci Utama dalam Penanganan Cerebral Palsy Sejak Dini
- Jan 10, 2026
- Adhe
- Kesehatan
Jakarta, 10 Juli 2025 — Cerebral Palsy (CP) merupakan gangguan gerakan dan postur akibat kerusakan otak yang terjadi pada masa perkembangan anak, baik selama kehamilan, saat persalinan, maupun setelah lahir. Kondisi ini tidak bersifat progresif, namun dampaknya bisa menetap seumur hidup. Di tengah tantangan besar yang dihadapi oleh anak-anak dengan CP, fisioterapi muncul sebagai fondasi utama dalam upaya penanganan jangka panjang.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), CP merupakan salah satu penyebab disabilitas motorik tersering pada anak. Gejala yang ditimbulkan sangat beragam, mulai dari kekakuan otot (spastisitas), gerakan tidak terkontrol, kesulitan berdiri dan berjalan, hingga gangguan koordinasi. Namun, dengan intervensi terapi yang tepat, kualitas hidup anak dengan CP dapat meningkat secara signifikan.
Dalam laporan khusus Kompas Kesehatan, fisioterapis anak dari RSAB Harapan Kita, dr. Yulia Hariani, S.Ft., M.Fis, menjelaskan bahwa intervensi dini merupakan kunci keberhasilan terapi pada anak dengan CP.
“Fisioterapi sebaiknya dimulai sejak usia dini, bahkan sebelum gejala menetap. Tujuannya adalah mencegah terjadinya kekakuan otot permanen, memperbaiki postur dan gerakan, serta membantu anak mencapai potensi fungsional maksimalnya,” kata dr. Yulia.
Fisioterapi pada anak dengan CP bersifat individual dan berkelanjutan. Setiap anak memiliki tingkat keparahan dan jenis CP yang berbeda—ada yang mengalami kekakuan otot (spastic CP), gerakan tak terkendali (dyskinetic CP), hingga gangguan keseimbangan (ataxic CP). Oleh karena itu, pendekatan terapi disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien.
Program fisioterapi biasanya meliputi latihan mobilitas sendi, penguatan otot, latihan keseimbangan, pelatihan berjalan, serta latihan postur tubuh. Selain itu, fisioterapis juga dapat menggunakan alat bantu seperti standing frame, walker, atau ankle-foot orthosis (AFO) untuk membantu anak berdiri dan bergerak lebih optimal.
Selain teknik manual, terapi berbasis permainan (play-based therapy) juga banyak digunakan agar anak tetap merasa nyaman dan termotivasi. Penggunaan teknologi seperti neuromuscular electrical stimulation (NMES) dan robotic-assisted gait training kini mulai diterapkan di beberapa rumah sakit besar di Indonesia.
Dian Rahmawati, ibu dari Aulia (6), seorang anak dengan CP spastik, membagikan kisah perjuangannya.
“Dulu Aulia tidak bisa duduk sendiri, tapi setelah terapi rutin selama dua tahun, sekarang dia bisa berdiri dengan bantuan alat. Setiap kemajuan kecil berarti besar bagi kami,” ujarnya haru.
Fisioterapi juga melibatkan edukasi kepada orang tua dan pengasuh, mulai dari cara menggendong anak yang benar, latihan yang bisa dilakukan di rumah, hingga modifikasi lingkungan agar lebih ramah untuk aktivitas anak.
Pendekatan tim multidisipliner yang melibatkan fisioterapis, dokter anak, okupasi terapis, dan terapis wicara menjadi sangat penting dalam memberikan penanganan yang komprehensif. Dengan terapi yang berkesinambungan, anak-anak dengan CP tetap memiliki peluang untuk hidup lebih mandiri dan aktif.
Cerebral Palsy mungkin tidak dapat disembuhkan, namun melalui fisioterapi yang konsisten, anak-anak dengan CP diberi kesempatan untuk tumbuh dengan lebih percaya diri, bergerak lebih bebas, dan menjalani kehidupan yang lebih berkualitas.