Fisioterapi Berperan Penting dalam Penanganan Rheumatoid Arthritis: Harapan Baru untuk Pasien Autoimun

  • Jan 09, 2026
  • Adhe
  • Kesehatan

Fisioterapi Berperan Penting dalam Penanganan Rheumatoid Arthritis: Harapan Baru untuk Pasien Autoimun

Jakarta, 9 Juli 2025 — Rheumatoid arthritis (RA), atau radang sendi rematik, adalah penyakit autoimun kronis yang menyerang sendi-sendi kecil seperti pergelangan tangan, jari, pergelangan kaki, hingga lutut. Tidak hanya menyebabkan nyeri dan peradangan, RA juga dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sendi jika tidak ditangani secara optimal. Di balik dominasi pengobatan farmakologis, fisioterapi kini menjadi salah satu komponen krusial dalam pendekatan multidisipliner bagi penderita RA.

Berbeda dengan osteoarthritis yang bersifat degeneratif, RA melibatkan sistem kekebalan tubuh yang secara keliru menyerang jaringan sendi. Hasilnya, penderita kerap mengalami kekakuan sendi di pagi hari, pembengkakan, kelemahan otot, hingga kelelahan yang luar biasa. Meski belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan RA, kombinasi pengobatan dan rehabilitasi dapat membantu mengendalikan gejala dan menjaga fungsi tubuh.

“Fisioterapi dalam kasus rheumatoid arthritis bukan hanya tentang menggerakkan tubuh, tetapi memastikan sendi tetap fleksibel dan otot tetap kuat tanpa memperparah peradangan,” ujar dr. Yuniar Handayani, Sp.KFR, spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi di RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Menurut dr. Yuniar, pasien RA sangat diuntungkan dengan program terapi individual yang mencakup latihan rentang gerak, penguatan otot, latihan aerobik ringan, serta terapi okupasi untuk membantu aktivitas sehari-hari. Terapi dilakukan secara bertahap dan sangat hati-hati, mengingat sendi penderita RA sangat rentan cedera.

Latihan rentang gerak (range of motion exercises) menjadi fondasi utama untuk mencegah kekakuan sendi. Sementara itu, latihan penguatan otot bertujuan menstabilkan sendi yang terkena, membantu mengurangi beban langsung pada struktur sendi, serta meningkatkan daya tahan fisik.

Selain latihan aktif, fisioterapi juga menggunakan pendekatan modalitas seperti terapi panas-dingin, TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), dan ultrasound untuk membantu mengurangi rasa nyeri dan pembengkakan pada fase akut. Di fase kronis, teknik mobilisasi manual dan edukasi postur sangat dianjurkan.

Pentingnya peran edukasi pasien tak bisa diabaikan. Fisioterapis akan mengajarkan teknik hemat energi, penggunaan alat bantu ergonomis, serta strategi pengelolaan aktivitas agar pasien tidak memaksakan diri di tengah flare-up atau kekambuhan gejala.

“Dengan intervensi yang tepat, pasien RA bisa tetap bekerja, merawat keluarga, bahkan menjalani hidup aktif. Sayangnya, kesadaran masyarakat akan pentingnya rehabilitasi masih rendah,” tambah dr. Yuniar.

Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan, sekitar 0,5–1% penduduk Indonesia diperkirakan mengidap RA, dengan mayoritas penderita adalah wanita usia 30 hingga 60 tahun. Meski angka ini terlihat kecil, dampak ekonomis dan sosialnya sangat besar jika penderita tidak mendapat terapi yang tepat.

Fisioterapi bukan hanya pelengkap, tetapi bagian inti dari manajemen rheumatoid arthritis. Peran aktif fisioterapis dalam tim medis memberi peluang besar bagi penderita untuk menjaga kualitas hidup dan memperlambat progresivitas penyakit.

Di tengah tantangan hidup dengan RA, fisioterapi menjadi harapan nyata untuk tetap bergerak dan hidup mandiri.