enomena Broken Home Dinilai Berdampak Serius terhadap Kesehatan Mental Anak

  • Feb 03, 2026
  • Aqilah Khalilah
  • Edukasi, Sosial Masyarakat, Informasi

Indonesia — Fenomena keluarga broken home atau perpecahan dalam rumah tangga dinilai memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental anak. Sejumlah pakar psikologi anak menegaskan bahwa konflik berkepanjangan, perceraian tanpa pendampingan yang tepat, serta kurangnya komunikasi orang tua dapat memengaruhi perkembangan emosional dan sosial anak.

Anak yang tumbuh dalam keluarga tidak harmonis berisiko mengalami stres berkepanjangan, rasa tidak aman, hingga penurunan kepercayaan diri. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut juga berdampak pada prestasi belajar dan perilaku sosial anak di lingkungan sekolah maupun pergaulan.

“Anak sering menjadi pihak yang paling terdampak, meski mereka tidak terlibat langsung dalam konflik orang tua,” ujar seorang psikolog anak. Menurutnya, anak kerap memendam perasaan bingung, sedih, dan takut, terutama jika tidak mendapatkan penjelasan dan dukungan emosional yang cukup.

Guru dan tenaga pendidik juga mengamati perubahan perilaku pada anak dari keluarga broken home, seperti menjadi lebih pendiam, mudah marah, atau sulit berkonsentrasi di kelas. Kondisi ini, jika tidak ditangani sejak dini, dikhawatirkan dapat memengaruhi kesehatan mental anak hingga remaja.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa broken home tidak selalu berujung pada kerusakan mental anak. Kunci utamanya terletak pada peran orang tua dalam tetap memberikan kasih sayang, komunikasi yang sehat, serta kerja sama dalam pengasuhan meski tidak lagi tinggal bersama.

Pemerintah dan lembaga perlindungan anak mendorong peningkatan edukasi parenting dan layanan konseling keluarga agar dampak negatif perpecahan rumah tangga dapat diminimalkan. Sekolah juga diharapkan berperan aktif melalui layanan konseling dan pendekatan personal kepada siswa yang membutuhkan perhatian khusus.

Masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap kondisi anak di sekitarnya dan tidak memberikan stigma negatif. Dukungan lingkungan, keluarga besar, dan institusi pendidikan dinilai sangat penting untuk membantu anak tumbuh dengan mental yang sehat meski berada dalam kondisi keluarga yang tidak utuh.

Dengan pendampingan yang tepat dan lingkungan yang suportif, anak dari keluarga broken home tetap memiliki peluang besar untuk berkembang secara positif dan meraih masa depan yang baik.