Eco Green Talk: Inovasi KKN Unmer Kelompok 21 Demi Kemandirian Pangan Warga
- Aug 24, 2025
- Rizka Wulandari
- Edukasi, PKK, Pelatihan, KKN
Jejak Hijau dari Desa Sitirejo
Di sebuah dusun kecil bernama Temu, yang terletak di Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, suara riuh ibu-ibu bercampur tawa anak-anak terdengar dari balai desa. Sore itu, mahasiswa Universitas Merdeka (Unmer) Malang menggelar sebuah forum unik: Eco Green Talk.
Kegiatan ini bukan hanya sekadar acara diskusi, melainkan bagian dari rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 21. Mereka mengusung gagasan besar: bagaimana warga desa bisa mandiri dalam hal pangan dengan memanfaatkan teknologi sederhana bernama green house.
Bagi sebagian warga, istilah green house mungkin terdengar asing. Namun, mahasiswa datang bukan untuk menggurui, melainkan untuk membuka ruang dialog. Dari situlah cerita panjang tentang inovasi, pemberdayaan, dan harapan akan kemandirian pangan dimulai.
Dari Kampus ke Desa – Misi KKN yang Berbeda
Program KKN selalu identik dengan mahasiswa yang turun langsung ke masyarakat. Namun, kelompok 21 Unmer Malang memilih untuk tampil berbeda. Alih-alih hanya fokus pada pembangunan fisik, mereka memutuskan untuk menekankan pendidikan lingkungan dan pangan berkelanjutan.
rizal, ketua kelompok KKN, menjelaskan:
“Kami melihat Dusun Temu punya potensi besar di bidang pertanian. Tapi banyak lahan yang belum dikelola optimal. Kami berpikir, green house bisa jadi solusi, apalagi kalau dikelola oleh ibu-ibu PKK yang selama ini aktif di kegiatan desa.”
Keputusan itu lahir dari diskusi panjang. Mereka ingin KKN tidak berakhir begitu mahasiswa pulang. Maka, konsep Eco Green Talk diciptakan: forum dialog yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik keseharian warga.
Merajut Persiapan – Menyapa Warga, Menyusun Agenda
Sebelum acara digelar, mahasiswa terlebih dahulu melakukan observasi lapangan. Mereka menyapa warga, mendatangi rumah-rumah, dan ikut hadir dalam pertemuan rutin PKK.
Dari situ, mereka menemukan bahwa banyak ibu-ibu tertarik menanam sayuran, tetapi terkendala waktu, pengetahuan, dan lahan yang sempit. Maka, green house dinilai sebagai jalan tengah.
Proses persiapan Eco Green Talk melibatkan:
-
Diskusi bersama Kepala Desa dan perangkat dusun.
-
Mengidentifikasi kebutuhan warga.
-
Menyusun materi dengan bahasa sederhana, agar mudah dipahami.
-
Menyebarkan undangan ke warga RT 2, tempat green house dibangun.
Ibu Lilik, salah satu penggerak PKK, mengatakan:
“Anak-anak muda ini rajin datang ke rumah. Mereka tidak hanya ngajak ngobrol soal acara, tapi juga tanya-tanya kebutuhan kami. Rasanya seperti ada yang peduli.”
Hari H – Balai Dusun Jadi Panggung Hijau
Tanggal yang dinanti tiba. Balai dusun dipenuhi ibu-ibu dengan wajah penuh semangat. Sebuah spanduk bertuliskan “Eco Green Talk: Bersama Wujudkan Kemandirian Pangan” terbentang di dinding.
Acara dibuka oleh ibu kasun yang menekankan pentingnya pangan lokal. Kemudian mahasiswa mengambil alih dengan sesi edukasi interaktif.
Materi yang dibahas antara lain:
-
Definisi dan manfaat green house.
-
Cara sederhana merawat tanaman di lingkungan terbatas.
-
Peluang ekonomi dari hasil panen.
-
Peran keluarga dalam menjaga lingkungan.
Dialog berlangsung hangat. Banyak warga bertanya soal teknis, seperti cara mengatasi hama tanpa pestisida. Mahasiswa menjawab dengan contoh sederhana: menggunakan larutan bawang putih atau serai sebagai pestisida alami.
Setelah diskusi, peserta diajak tur ke lokasi green house. Di sana, mereka melihat langsung tanaman sawi, cabai, dan tomat yang tumbuh segar. Beberapa warga bahkan mencoba menyentuh dan mencium aroma tanaman.
Anak-anak yang ikut serta tampak berlarian di sekitar green house, seakan menemukan taman bermain baru.
Suara dari Warga – Harapan dan Cerita
Bagi warga, Eco Green Talk bukan sekadar acara. Mereka merasa diberi ruang untuk belajar hal baru.
Ibu bawon, ibu RT 2, berkata sambil tersenyum:
“Selama ini kalau belanja sayur ya ke pasar. Kalau bisa nanam sendiri kan lebih hemat. Kalau lebih, bisa dijual. Jadi ada tambahan.”
Sementara itu, Pak Joko, perangkat desa, melihat program ini sebagai pintu masuk menuju kemandirian pangan:
“Kami ingin nanti setiap rumah punya kebun kecil. Green house ini contoh nyata. Kalau warga bisa meniru, kita bisa mandiri.”
(± 500 kata)
Dimensi Sosial – Dari Gotong Royong ke Pemberdayaan
Eco Green Talk menghidupkan kembali semangat gotong royong. Warga mulai menyusun jadwal piket untuk merawat green house. Ibu-ibu PKK berbagi tugas: ada yang menyiram, ada yang membersihkan gulma, ada yang mencatat perkembangan tanaman.
Bagi mahasiswa, ini adalah pelajaran penting. Mereka melihat bagaimana teori pemberdayaan yang dipelajari di kelas benar-benar hidup di lapangan.
Reval, salah satu anggota KKN, berujar:
“Kalau di kelas kita belajar teori partisipasi masyarakat. Di sini, kami lihat langsung bagaimana warga merasa memiliki. Rasanya luar biasa.”
Bab VI: Tantangan dan Solusi
Meski antusias, kegiatan ini tidak lepas dari kendala. Beberapa di antaranya:
-
Waktu terbatas. Masa KKN hanya sekitar 35 hari, sementara perubahan butuh proses panjang.
-
Fasilitas minim. Green house masih sederhana, butuh perbaikan atap plastik dan sistem irigasi.
-
Partisipasi tidak merata. Sebagian warga sibuk bekerja, sehingga belum bisa aktif terlibat.
Namun, mahasiswa tak kehabisan akal. Mereka mengajak perangkat desa untuk membuat regulasi sederhana: green house menjadi aset dusun. Dengan begitu, keberlanjutan lebih terjamin.
Bab VII: Jejak Akademik – Ilmu yang Hidup di Tengah Warga
Eco Green Talk juga memberi ruang mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu lintas disiplin:
-
Mahasiswa komunikasi melatih kemampuan public speaking saat menyampaikan materi.
-
Mahasiswa pertanian praktis menerapkan teori budidaya tanaman.
-
Mahasiswa manajemen belajar mengatur jalannya acara dan pembagian tugas.
Kombinasi itu menghasilkan sinergi yang tidak hanya bermanfaat bagi warga, tapi juga bagi pengembangan diri mahasiswa.
Bab VIII: Dampak Jangka Panjang – Kemandirian Pangan Dimulai
Setelah Eco Green Talk selesai, warga Dusun Temu tidak berhenti. Mereka mulai menanam sayuran di polybag sekitar rumah. Beberapa bahkan mencoba membuat pupuk organik dari limbah dapur.
Green house yang dibangun mahasiswa menjadi pusat pembelajaran desa. Rencananya, hasil panen sebagian akan dijual ke pasar desa, sisanya dibagikan untuk konsumsi warga.
Anak-anak sekolah dasar yang ikut kegiatan juga mendapat manfaat. Mereka mengenal cara bercocok tanam dan belajar bahwa makanan tidak selalu harus dibeli di toko.
Bab IX: Inspirasi Lebih Luas – Dari Dusun ke Nusantara
Eco Green Talk di Dusun Temu hanyalah contoh kecil. Namun, jika konsep ini direplikasi di banyak desa, dampaknya bisa sangat besar. Indonesia bisa lebih kuat menghadapi krisis pangan dengan memanfaatkan kearifan lokal dan teknologi sederhana.
Unmer Malang lewat KKN kelompok 21 memberi contoh bahwa mahasiswa tidak hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi juga untuk mendorong perubahan sosial.
Bab X: Refleksi – Mahasiswa Belajar dari Warga
Bagi mahasiswa, KKN bukan hanya tentang memberi, tapi juga menerima.
Safira menutup kegiatan dengan refleksi:
“Kami datang dengan niat mengajar, tapi justru banyak belajar. Warga mengajarkan arti kebersamaan, kesabaran, dan pentingnya menjaga alam.”
Pernyataan itu menggambarkan esensi KKN: jembatan antara kampus dan masyarakat.
Penutup: Warisan Hijau untuk Generasi Mendatang
Eco Green Talk berakhir, mahasiswa kembali ke kampus, namun jejak hijau mereka tetap ada. Green house di RT 2 kini menjadi simbol harapan: harapan untuk pangan mandiri, lingkungan lestari, dan gotong royong yang abadi.
Dusun kecil itu mungkin sederhana, tetapi dari sanalah lahir inspirasi besar: bahwa perubahan menuju kemandirian bisa dimulai dari langkah kecil bersama.