AI Menciptakan Lagu Hits? Kolaborasi Baru Dunia Musik di Era Digital

  • Aug 13, 2025
  • Firdaus
  • Informasi

 

Fenomena kecerdasan buatan (AI) kini merambah dunia musik secara masif. Jika dulu penciptaan lagu hanya bisa dilakukan oleh manusia dengan bakat dan pengalaman, kini AI mampu menyusun melodi, lirik, hingga aransemen musik yang tak kalah dengan hasil karya musisi profesional. Di Malang, geliat penggunaan AI dalam menciptakan lagu mulai mendapatkan tempat di kalangan kreator lokal, bahkan menciptakan hits viral di platform digital.

Salah satu contoh terbaru adalah lagu berjudul “Pelangi Senja”, yang sempat menempati jajaran trending di Spotify Indonesia. Lagu tersebut diketahui merupakan hasil kolaborasi antara produser musik asal Malang, Angga Wiranata, dan sebuah aplikasi AI komposer yang memanfaatkan machine learning untuk menganalisis tren musik populer.

“Awalnya saya hanya coba-coba, input beberapa emosi, tempo, dan tema. Dalam waktu kurang dari 10 menit, AI sudah menghasilkan tiga sketsa lagu. Dari situ saya poles lagi, rekam ulang vokal, dan hasil akhirnya malah meledak,” ujar Angga saat diwawancarai di studionya di kawasan Lowokwaru.


AI dan Musik: Kombinasi Teknologi dan Seni

Aplikasi seperti Amper Music, Soundraw, dan Aiva kini makin sering digunakan oleh musisi independen di Indonesia, termasuk di Malang. Kecerdasan buatan ini bekerja dengan menganalisis jutaan komposisi musik, memahami struktur lagu, progresi akor, dan dinamika emosi, lalu menghasilkan lagu-lagu baru yang orisinal.

Bahkan, beberapa AI terbaru juga sudah mampu menyusun lirik dalam berbagai bahasa berdasarkan input tema tertentu, dan mencocokkannya dengan nuansa musik yang sesuai. “Kalau dulu butuh waktu berminggu-minggu untuk menyusun album, sekarang kita bisa punya kerangka 10 lagu dalam sehari,” tambah Angga.


Pro dan Kontra di Kalangan Musisi

Meski menjanjikan efisiensi dan produktivitas, kehadiran AI dalam penciptaan lagu tak lepas dari perdebatan. Beberapa musisi senior menyayangkan hilangnya sentuhan emosional dan pengalaman hidup dalam proses kreatif musik yang murni manusiawi.

“Musik bukan hanya nada dan kata. Ada jiwa di dalamnya. Saya khawatir kalau AI mengambil alih, maka rasa itu bisa hilang,” ujar Ratna Sari, penyanyi jazz asal Malang yang masih memilih metode tradisional dalam berkarya.

Namun, musisi muda justru melihat ini sebagai peluang. “AI itu alat bantu, bukan pengganti. Kita masih yang menentukan kualitas akhir,” ucap Rafi, mahasiswa seni musik Universitas Negeri Malang yang aktif menggunakan AI dalam proyek-proyek musik digitalnya.


Masa Depan Musik Indonesia?

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang melihat tren ini sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari. Mereka berencana membuat lokakarya khusus bagi musisi lokal untuk mengenalkan teknologi AI dalam penciptaan musik, sekaligus membangun kesadaran akan etika penggunaannya.

“Kolaborasi manusia dan AI bisa menciptakan warna musik baru. Tapi tetap perlu regulasi, terutama soal hak cipta dan orisinalitas,” kata Ibu Ayu Harisanti dari Bidang Ekonomi Kreatif.


Kesimpulan

AI dalam dunia musik bukan sekadar tren sesaat. Di Malang, teknologi ini sudah mulai mengubah cara musisi menciptakan lagu, membuka pintu untuk lebih banyak karya inovatif. Namun, tantangan etis, orisinalitas, dan keunikan manusia tetap menjadi pertimbangan utama. Mungkinkah AI menciptakan lagu hits? Jawabannya: sudah, dan mungkin akan semakin sering terjadi.