Fisioterapi Jadi Pendamping Utama dalam Penanganan Skoliosis Secara Non-Bedah

  • Jan 13, 2026
  • Adhe
  • Kesehatan

Jakarta, 10 Juli 2025 — Skoliosis, atau kelainan tulang belakang yang membuat tulang punggung melengkung menyerupai huruf "S" atau "C", masih menjadi salah satu masalah muskuloskeletal yang cukup umum di masyarakat. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dan sering kali berkembang tanpa disadari. Meski ada kasus yang memerlukan tindakan pembedahan, fisioterapi terbukti menjadi pendekatan non-invasif yang efektif untuk mengelola skoliosis dan memperlambat progresinya.

Skoliosis terbagi menjadi beberapa jenis, namun yang paling sering ditemukan adalah skoliosis idiopatik, yang biasanya muncul pada masa pertumbuhan remaja dan tidak diketahui penyebab pastinya. Selain itu, ada skoliosis kongenital (bawaan lahir), neuromuskular (akibat gangguan saraf dan otot), serta degeneratif yang umum terjadi pada usia lanjut.

“Skoliosis bukan hanya soal bentuk tubuh yang tidak simetris, tapi juga berdampak pada fungsi paru, pernapasan, rasa nyeri, serta kepercayaan diri pasien,” ujar Niken Paramita, S.Ft, fisioterapis ortopedi di Klinik Rehabilitasi Tulang Belakang Jakarta. “Fisioterapi bisa membantu mencegah kondisi bertambah parah, memperbaiki postur, dan mengurangi nyeri.”

Dalam penanganan skoliosis, fisioterapi berperan besar melalui pendekatan latihan korektif yang terarah dan konsisten. Salah satu metode yang banyak digunakan adalah Schroth Method, yakni serangkaian latihan yang dirancang untuk memperbaiki kelengkungan tulang belakang dengan teknik pernapasan rotasional, kontrol postur, serta penguatan otot-otot postural.

Selain metode Schroth, fisioterapis juga menggunakan teknik latihan stabilisasi inti (core stability), mobilisasi sendi, dan pelatihan proprioseptif untuk meningkatkan kesadaran tubuh terhadap posisi tulang belakang. Program disusun secara individual, berdasarkan hasil evaluasi bentuk kurva skoliosis, tingkat fleksibilitas tulang belakang, serta usia dan aktivitas harian pasien.

Salah satu pasien, Alya Putri (15), mengungkapkan pengalamannya saat didiagnosis skoliosis dengan derajat kelengkungan 25 derajat. “Awalnya saya merasa minder karena bahu kanan lebih turun dari kiri. Tapi setelah ikut fisioterapi selama enam bulan, badan saya jadi lebih tegak dan rasa sakit berkurang,” ujarnya.

Fisioterapi juga penting dilakukan pada pasien yang menggunakan brace (penyangga tubuh), untuk memastikan otot-otot tetap aktif dan postur tubuh tetap terkendali meskipun menggunakan alat bantu. Bahkan, pada beberapa kasus ringan hingga sedang, terapi yang konsisten dapat mencegah pasien menjalani operasi.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap skoliosis hanya masalah estetika dan menunda pemeriksaan medis hingga kondisi bertambah parah. Minimnya edukasi dan akses ke fisioterapi khusus skoliosis menjadi kendala utama, terutama di daerah-daerah terpencil.

Pakar kesehatan menyerukan pentingnya skrining skoliosis di sekolah-sekolah serta peningkatan pelatihan bagi fisioterapis tentang terapi skoliosis berbasis bukti. Dengan deteksi dini dan penanganan tepat, pasien dapat menjalani hidup yang aktif dan nyaman tanpa harus menempuh prosedur bedah yang kompleks.

Fisioterapi bukan hanya tentang latihan fisik, tetapi tentang mengembalikan keseimbangan tubuh dan membentuk fondasi gerak yang sehat. Dalam kasus skoliosis, terapi ini membuka jalan bagi masa depan pasien yang lebih bebas, tegap, dan percaya diri.